Perilaku poligami saja telah cukup menarik perhatian orang, apalagi jika dikaitkan dengan seks dalam poligami. Setiap orang tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai kehidupan seks dalam sebuah rumah tangga yang berpoligami. Pendapat ini bisa jadi pendapat yang positif ataupun pendapat negatif.

Pendapat Positif dan Negatif Kehidupan Seks Poligami
Setiap hal tentunya memiliki sisi positif dan negatif. Begitu pula dengan kehidupan seks poligami. Berikut ini dua pendapat positif dan negatif tentang poligami berkaitan dengan kehidupan seks yang dijalani dalam perilaku tersebut.
- Pendapat positif tentang poligami
Di sangkal atau tidak, poligami menghindarkan seseorang dari keinginan untuk berganti-ganti pasangan. Seorang pria dengan istri lebih dari satu tentu tidak perlu melakukan perselingkuhan dengan wanita lain. Pria dengan istri lebih dari satu juga terhindar dari perilaku seks bebas sebab kebutuhan seksnya telah dipenuhi oleh istri-istrinya. Khususnya bagi pria yang memiliki nafsu seksual yang kuat, maka dengan memiliki banyak istri diharapkan kebutuhan seksualnya terpenuhi.
- Pendapat negatif tentang poligami
Pendapat negatif ini tentunya muncul dari pandangan kaum wanita dan juga kaum pria yang tidak setuju dengan kehidupan berpoligami. Poligami dianggap tidak menghargai perasaan kaum wanita yang harus rela berbagi dengan wanita lainnya termasuk dalam kehidupan seksual.
Adil Dalam Kehidupan Seksual
Salah satu syarat untuk melakukan poligami adalah mampu bertindak adil kepada istri-istri dalam segala hal termasuk nafkah lahir dan batin. Karena itulah seks dalam poligami pun harus dilakukan secara adil. Beberapa pengalaman para pelaku poligami agar kehidupan seks dalam poligami dapat berjalan secara adil adalah dengan membagi waktu yang sama banyak.
Misalnya saja seorang pelaku poligami membagi waktu dengan dua istrinya dengan cara, tiga hari di rumah istri pertama dan tiga hari di rumah istri kedua. Dengan membagi waktu yang sama adil ini, pelaku poligami mengharapkan kehidupan seks pun bisa berjalan secara adil pula.
Seorang pria yang hidup berpoligami juga memiliki kewajiban menjaga para istri-istrinya baik dalam hal agama maupun kehormatan. Berkaitan dengan kehormatan ini, seorang suami harus bisa memberikan kehidupan seksual yang menyenangkan kepada semua istrinya agar istrinya tidak mencari kepuasan selain dari suaminya.
Nah, jika seseorang tidak bisa berlaku adil baik dalam kehidupan seksual atau kehidupan pribadi lainnya, maka sebaiknya poligami tidak dilakukan. Berikut ini beberapa pemahaman yang salah berkaitan dengan perilaku poligami.
- Poligami tidak dilakukan karena alasan seksual
Agama Islam memperbolehkan poligami. Seorang pria diperbolehkan memiliki istri hingga empat orang. Namun poligami ini tidak boleh dilakukan dengan alasan seksual. Misalnya saja seorang pria yang melakukan poligami hanya karena ingin mendapatkan variasi dalam kehidupan seksualnya.
- Poligami tidak dilakukan dengan alasan reproduksi
Seorang pria tidak diperbolehkan untuk melakukan poligami jika alasannya hanyalah untuk mendapatkan anak. Misalnya saja seorang pria yang begitu menginginkan anak laki-laki namun tak kunjung mendapatkan anak laki-laki dari istri pertama lantas memutuskan untuk menikah lagi demi mendapatkan anak laki-laki dari istri lain.
Nah, dalam agama Islam yang memperbolehkan poligami, perilaku ini hanya bisa dilakukan jika seorang pria memiliki ketaatan dalam kehidupan beragama sehingga bisa menjadi teladan bagi istri-istrinya, seorang pria memiliki kemampuan untuk memberikan nafkah secara berkecukupan kepada istri-istrinya, dan seorang pria mampu melakukan hubungan seks dalam poligami secara adil kepada istri-istrinya.
Simak juga artikel menarik yang satu ini : Pernikahan beda usia dan dampaknya terhadap kehidupan seksual.
